Teori Dawai dan Pembuktiannya.
Sejarah perkembangan ilmu fisika menunjukkan suatu hal yang menarik. Salah satu hal yang menonjol adalah adanya upaya penyatuan/unifikasi berbagai hukum alam menjadi satu ide tunggal yang bisa menjelaskan dua hal atau lebih yang sebelumnya dianggap tidak berhubungan. Isaac Newton dapat dicatat sebagai pencetus yang sukses dalam usaha unifikasi ini, dimana teori gravitasi yang dia sodorkan dapat menjelaskan bahwa gaya yang menyebabkan apel jatuh ke bumi adalah sama dengan yang menyebabkan bulan mengelilingi bumi. Penggabungan gaya yang bekerja di langit (selestial) dan di bumi (terestial) menjadi satu yang disebutnya gaya gravitasi, membuktikan hal yang fantastik tentang gaya yang bekerja di alam ini. Tiga ratus tahun kemudian, James Maxwell, seorang fisikawan Skotlandia, juga sukses dalam menggabungkan dua fenomena yang sebelumnya dianggap berbeda: listrik dan magnet. Persamaan elektro-magnet dari Maxwell menunjukkan bahwa dua fenomena alam yang berbeda ternyata itu sesungguhnya berasal dari satu prinsip yang sama.
Unifikasi selanjutnya menjadi salah satu agenda utama dari fisikawan untuk bisa menjelaskan berbagai gaya yang bekerja di alam ini menjadi satu ide tunggal atau satu persamaan induk yang tentunya bisa menjelaskan segala hal. Albert Einstein pencetus teori relativitas umum yang memperbaiki teori gravitasi Newton, berusaha pula untuk melakukan unifikasi ini. Dia mencoba untuk menggabungkan gaya gravitasi dengan gaya electromagnet karena keduanya bekerja dalam jagat yang sama serta bergeraknya dalam kecepatan cahaya, sehingga diduga juga keduanya punya hal mendasar yang sama. Sampai akhir masa hidupnya upaya penggabungan kedua gaya ini gagal dilakukan oleh Einstein. Usaha Einstein tersebut tidak berhasil, karena teori relativitas umum yang telah sukses menjelaskan bagaimana alam semesta bekerja dan terprediksi dalam ruang-waktu berdasar gaya gravitasi, tidak bisa digabungkan dengan gaya electromagnet yang ternyata juga merupakan gaya bekerja dalam jagat yang sangat kecil, atom dan sub-atom, yang didasari oleh azas ketidakpastian dimana tingkat kejadian hanya bisa diramalkan dengan probabilitas saja.
Perkembangan ilmu fisika menunjukkan bahwa ternyata terdapat empat gaya dasar yang bekerja di alam semesta ini. Keempat gaya dasar sejauh ini dijelaskan dengan dua teori: mekanika kuantum yang menjelaskan adanya tiga gaya dasar yang bekerja dalam skala atom; sedangkan ada satu gaya lagi bekerja dalam jagat besar (yaitu gravitasi). Ketiga gaya dasar dalam skala atom ini yaitu gaya elektomagnetik (yang mengikat electron untuk tertarik ke inti atom dan yang mendasari interaksi antar atom), gaya inti kuat (yang menyebabkan proton dan netron dalam inti tidak saling tertolak) serta gaya inti lemah (yang bekerja dalam hal peluruhan sinar beta) telah sukses dicoba digabungkan dengan apa yang disebut model standar. Namun upaya menggabungkannya kedua teori besar ini belum berhasil; demikian juga bila mencoba menggabungkan salah satu ataupun ketiga gaya dasar dari mekanika kuantum dengan gaya gravitasi tidak pernah berhasil (seperti yang sudah dilakuan oleh Einstein).
Hal ini menjadi tantangan yang menarik bagi fisikawan karena untuk menjelaskan beberapa fenomena alam, keempat gaya dasar ini harus bisa menjelaskannya dengan tepat. Misalnya pada peristiwa penciptaan alam semesta yang disebut Ledakan Besar (Big Bang) dimana terdapat kemunculan energi yang sangat besar pada saat atom-atom belum terbentuk sama sekali; ataupun pada Lubang Hitam (black hole) saat massa bintang yang sangat besar sekali menciut volumenya secara drastic menjadi sangat kecil sekali. Sejauh ini upaya menjelaskan kedua peristiwa tersebut dengan menggabungkan keempat gaya dasar tidak pernah sukses, salah satu alasannya karena memang tidak ada teori tunggal yang bisa digunakan.
Sebagian fisikawan percaya bahwa alam semesta ini didasari oleh suatu teori tunggal dibandingkan apa yang dicoba dijelaskan secara terpisah oleh teori relativitas umum dan mekanika kuantum. Berdasar alasan itu fisikawan mencoba untuk menggabungkan keempat gaya dasar dalam satu teori tunggal. Ini tentu usaha pencarian dalam sains yang luar biasa berat, mengingat upaya yang dilakukan Einsten pun yang mencoba menggabungkan gaya elekromagnetik dengan gaya gravitasi saja tidak membawa hasil.
Teori Dawai (String Theory) adalah satu usaha formulasi keempat gaya dasar tadi yang tengah dikerjakan oleh fisikawan berbagai negara saat ini. Inti dari teori ini sangat sederhana, semua partikel di alam ini tersusun dari dawai energi yang lebih kecil dibanding electron. Teori Dawai ini menyatakan bahwa semua partikel di alam semesta ini dan semua gaya yang menyebabkan materi berinteraksi terbuat dari getaran energi tadi. Perbedaan getaran energi dari dawai ini sangat unik yang menyebabkan munculnya partikel dengan massa dan muatan berbeda misalnya. Teori ini mulai digagas akhir decade 1960-an dan mempunyai perkembangan naik-turun. Pada tahun 1980-an tantangan dalam teori dawai salah satunya adalah adanya anomaly perhitungan, dimana kalkulasi persamaan mendapati hasil yang berbeda (suatu inkonsistensi matematis). Untungnya pada tahun 1984 hal ini terpecahkan. Tantangan selanjutnya adalah berkembangnya teori dawai ini menjadi lima variasi, yang tentu saja membingungkan para penggiatnya, bagaimana mungkin satu teori dasar tentang alam semesta yang mencoba menggabungkan empat gaya dasar bisa mempunyai versi yang berbeda-beda? Versi manakah yang paling benar? Untungnya di pertengahan tahun 1990-an kelima teori ini bisa digabungkan menjadi satu teori saja yang kemudian dinamakan M-theory. Kalau teori ini memang benar maka akan sangat membantu dalam menjelaskan tentang kejadian asal-usul alam semesta ataupun terbentuknya Lubang Hitam. Sayangnya sejauh ini Teori Dawai tidak mempunyai satu pun konfirmasi yang bisa didapatkan melalui eskperimentasi laboratorium. Padahal sains termasuk fisika di dalamnya adalah kegiatan pembuktian satu teori melalui eksperimen yang wajib bisa direplikasi oleh pihak lain atau dalam kasus astronmi dan geologi melalui observasi. Sehingga status String Theory ini belum bisa diterima sebagai satu kebenaran ilmiah. Malah beberapa fisikawan menganggapnya baru sekelas filsafat, bahkan ada yang menyebutkan teori ini potensial salah dan selevel dengan fiksi ilmiah saja.
Beberapa alasan kenapa belum ada bukti eksperimen yang mendukung teori ini menunjukkan bahwa fisikawan string theory pun belum bisa memahami sepenuhnya tentang teori ini. Hal lainnya adalah karena apa yang disebut dawai energi pun amat sangat kecil sekali (sekitar satu per trilyun trilyun dari ukuran satu atom), dimana teknologi seperti akselerator dan detector yang ada saat ini belum mampu meng-inderai-nya.
Berbeda pada saat sains di sekitar tiga abad yang lalu yang belum banyak berkembang misalnya, dimana justru hanya dengan observasi saja, ilmuwan bisa melakukan konseptualisasi suatu teori (misalnya kisah jatuhnya apel yang diamati oleh Newton dan membuat formulasi teori gravitasi). Sedangkan pada masa sekarang menunjukkan bahwa makin berkembang dan canggihnya satu disiplin ilmu (dalam hal ini fisika modern), maka pembuktian satu teori melalui eksperimen harus dilakukan dan itupun biasanya diisyaratkan dari teori tersebut. Sayangnya, dalam hal Teori Dawai, sampai saat ini kita belum bisa melakukan hal itu.
Sumber: Green (2000). The Elegant Universe.


22 comments
Comments feed for this article
19 November 2007 pada 3:47
maya gunawan
ok……………………
19 November 2007 pada 3:51
maya gunawan
bribda daniel furitama polda jatim ,janjimu masih aku tunggu sampai kapanpun seperti aku mempelajari ilmu fisika seperti di atas.by: emerald south train.
19 November 2007 pada 5:34
deceng
wah tulisan diatas bisa jadi rujukan standar bagi anggota polri yah
20 November 2007 pada 9:14
stella (15)
ada usul proyek sderhana yg bisa sy buat berdasarkan hukum gravitasi ga??
stella – kls XI-IPA [SMA Don Bosco]
21 November 2007 pada 7:50
deceng
He he he, bagaimana kalau mereplikasi apa yang “ditemukan” Newton?
30 November 2008 pada 4:07
ibnusomowiyono
Saya menggagas Teori Minimalis yang dapat saya gunakan untuk “menginformasikan” bahwa Bigbang bukanlah permulaan terjadinya Universe melainkan “kelahiran” Sub Alam Fisika. TM bukanlah science melainkan bagian dari informatika yang berlatar belakang sejarah peradaban dan budaya manusia yang menyakini adanya Sub Alam Gaib, Sub Alam Fikir, Sub Alam Transien, Sub Alam Fisika/benda, dan Sub Alam Biologis. Kelima Sub Alam tersebut “pernah dan mungkin masih diyakini dan merupakan dasar berfikir” manusia. Saya yakin seyakin-yakinan kebenaran/validitas Science yang telah terbukti sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, namun sayang sekali, science cenderung hanya berkutat pada masalah teori quantum serta teori gravitasi, padahal menurut analisa saya pada Formula Supernatural Modern justru Sub Alam Transienlah yang sangat menjanjikan untuk dipelajari disamping Sub Alam Fisika dan Sub Alam Biologi. Jika FM dianggap sekedar Filosofi, maka saya ingatkan: Manusia berbeda dari binatang dimulai dari kemampuannya berfilosofi, kemudian terbuka akalnya untuk berfikir. Semoga teori Dawai membuka cakrawala baru, hingga manusia lebih memperluas cakrawala baru dalam mengungkap rahasia Universe. Ciptaan Tuhan YME bukan sekedar materi, banyak yang jauh lebih hebat, namun banyak yang tak terakses oleh kemampuan manusia (keyakinan,berfikir dan indra, (menurut FSM invalid). Marilah kita pelajari seluruh isi Universe yang valid dan kita serahkan yang invalid tetap menjadi rahasia Nya.
1 Desember 2008 pada 6:39
deceng
Saat ini berbagai teori baru banyak bermunculan kok, sayangnya banyak pula yang langsung masuk kuburan. String Theory relatif bertahan karena secara matematis berbagai perhitungannya logis, walaupun secara eksperimen (konon) masih sangat jauh untuk bisa dibutktikan. Kalau hanya sekedar asumsi sih silahkan saja, namun menyamakan sains dengan interpretasi bukanlah hal yang bijak untuk dilakukan (untuk tidak mengatakan tidak relevan dalam sains).
2 Desember 2008 pada 8:18
ibnusomowiyono
TM bukan saint, namun dapat untuk “menjelaskan” sesuatu yamg sulit dijelaskan dengan metoda/teori lain. Saya ingin bertanya kepada anda:
1. Bagaimana terjadinya titik singular yang tiba-tiba muncul begitu saja tanpa diketahui asalnya, bahkan sanggup menimbulkan fenomena Bigbang? TM menginformasikan dari titik itu tak lain unsur priemordia (000)yang kehilangan bayangan supersimitrinya hingga menjadi materi (0qq) dan terjadinya efek domino/reaksi berantai hingga memiliki energi sangat besar.
2. Universe ini sangat luas namun sanggup “mengatur dirinya”. Dengan mekanisme apa bagian2 universe yang sangat berjauhan ( ratusan juta tahun cahaya jaraknya) saling dapat berinterakis/berkomunikasi? TM menginformasikan adanya asymitrical trans wave yang kecepatannya melebihi c karena tak menimnbulkan foton.
3. Apa bedanya makluk hidup yang berwadag ( manusia,hewan,tumbuh2n) dengan sekedar benda: patung, modil,tv, dll. TM menginformasi benda hanya terdiri dari partikel/materi (0qq) sedangkan makluk hidup disamping materi memiliki spirit #0#0#0.
4.Mengtapa Univers saat ini mengembang dan sebelumnya diperkirakan bersifat statis? TM menginbformasikan bahwa hal ini disebabkan Universe tak hanya terdiri dari sekedar materi melainkan terdapatnya energi non materi (semu).
5. Tak mudah untuk menjelaskan orang awam dengan mathematika modern, hingga saya menjelaskannya dengan Mathematika Minimalis sekedar untuk membedakan fenomena Universe yang valid (dapat terakses oleh kemampuan manusia) dan yang invalid (tak mungkin terakses oleh kemampuan manusia).
Yang perlu saya tegaskan : TM tak menyangkal kebenaran dan manfaat Saint, melainklan sekedar mengkritisi agar manusia tak terbelenggu oleh materialisme hingga menjadi atheis.
Saya akui bahwa TM tak relevan dengan saint, karena Saint hanya berkutat pada mekanika kwantum dan teori relativitas. sedangkan TM justru menitik beratkan pada Sub Alam Transien dimana terdapat energi yang belum bermassa hingga belum membutuhkan ruang. Saya menyambut kehadiran teori dawai dan teori of everything yang mulai memasuki dimensi sangat halus yang akhirnya akan memasuki Sub Alam Transien.
2 Desember 2008 pada 11:48
deceng
Wah saya tidak menyangka dapat sambutan seserius ini
. saya akan coba menjawab pertanyaan anda sesuai pengetahuan yang saya saja, saya tidak bisa melakukan inferensi apalagi menyangkutkan dengan TM .
1). Singularitas pada masa pra Bigbang tidak bisa dihitung, secara matematis yang ada kosong saja. Spekulasi ilmuwan (karena belum dapat dibuktikan), fisika saat Bigbang sedikit beda dengan setelah Bigbang [anda dapat melakukan inferensi bahwa dari keadaan kosong {tidak ada apa-apa} ternyata menjadi apa-apa {Bigbang}, pasti ada apa-apa di dalam peristiwa tersebut {kita bisa menyebutnya Tuhan}]
2) Universe mengembang karena energi dari masa Bigbang sangat kuat, dia bisa mengatur dirinya karena ada gaya gravitasi; inflasi universe pada masa sekarang spekulasi ilmuwan hal itu digerakkan oleh adanya dark matter dan dark energy (tapi keberadaan keduanya belum bisa dibuktikan). Saya tidak bisa menjawab pertanyan anda tentang adanya kecepatan melebihi c.
3). saya juga tidak tahu hubungan TM dengan hal ini.
4). Universe mengembang merupakan penemuan yang sifatnya masih baru, hasil pengamatan Edwin Hubble tahun 1920-an melalui teleskop di Mt. Wilson. Teori alam semesta yang statis maupun yang balik lagi ke asalnya sudah lama ditinggalkan karena tidak sesuai dengan bukti ilmiah keberadaan Bigbang. Apakah TM mencomot ide tentang “dark matter” sehingga bisa punya penjelasan yang mirip dengan alam semesta yang mengembang?
5). Saya juga tidak bisa menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan TM ini.
Terima kasih atas pertanyaan dan tanggapannya.
9 Januari 2009 pada 7:09
ibnusomowiyono
Benar, TM “mencomot” dark energy karena ternyata dark energy dapat diterima oleh pikiran yang rational walau masih belum dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan. TM juga memperkenalkan bright energy yang irrational sebab disamping fikiran manusia memiliki kemampuan meyakini sesuatu tanpa difikir. TM didasari kenyataan bahwa manusia memilki pancaindra untuk mengakses sesuatu yang nyata, fikiran untuk mengakses sesuatu yang rational dan bathin/keyakinan yang sanggup menerima sesuatu yang irrational. TM masih bersifat filosofis, namun dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan fenomena yang “dibiarkan” lewat begitu saja oleh ilmu pengetahuan dan agama. TM tak menyangkal melainkan mengkritisi fenomena yang “dibuang sayang”. Suatu contoh: Fenomena pra Bigbang.
Mengungkap fenomena pra Bigbang akan membuka cakrawala baru dalam ilmu pengetahuan sekaligus mengagungkan Tuhan YME. Konsep Sub Alam Semu yang belum terisi oleh sesuatu yang bermassa adalah sesuatu yang
melengkapi konsep fisika yang kini berlaku, sebagai contoh fenomena cahaya dengan fotonnya, medan magnit monopole, assymetrical trans wave yang dapat dimanfaatkan melakukan komunikasi antar planit yang sangat berjauhan, mengungkap asal usul kehidupan , misteri Alien dan Ufo.
Mungkin anda beranggapan saya tak waras lagi, karena memikirkan sesautu yang muskil, namun itulah obsessi saya: manusia jangan tertinggal dari makluk cerdas lainnya di Universe ini.
19 Februari 2009 pada 6:29
ibnusomowiyono
Statement saya hanyalah sekedar bahan untuk direnungkan:
1.Alam Semesta terdiri dari satu system tertutup dimana jumlah energinya tetap yang berubah hanyalah bentuk/jenisnya.
2.Ada dua jenis energi:a. energi nyata yang mengenal dimensi waktu, massa dan ruang nyata.b.energi semu yang hanya mengenal dimensi waktu.
3.Photon adalah media transisi menuju kekeseimbangan prima, sedangkan graviton adalah media transisi keluar dari keseimbangan prima.
4.Keseimbangan prima menjadikan energi semu menjadi energi nyata, sebaliknya energi nyata dapat menjadi semu akibat hilangnya keseimbangan prima.
5. Formula Supernatural Modern E=-x + y dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan sesuatu yang valid (dapat terakses oleh kemampuan manusia) dan yang invalid (tak mungkin terakses oleh kemampuan manusia). Dapat digunakan untuk membedakan energy,body dan wave, dari berbagai dimensinya. Kondisi transien dapat membedakan yang rationil dan irrationil. Kondisi nyata dan transien dapat membedakan benda dan organisme.
16 Maret 2009 pada 6:12
Puji lestari
Ada,yg perlu saya tanyakan.Bagaimana anda menyatakan adanya relativita
17 Maret 2009 pada 9:39
deceng
Kayaknya nanyanya ke Mr Ibnu yah, klik saja link-nya beliau.
3 April 2009 pada 11:35
Freddy Lumbantoruan
thanks!
saya juga sangat tertarik dengan fisika teoritik. dengan adanya blog ini saya dapat pengalaman namun coment dari saudara Deceng pada awal2 menunjukkan dirinya merasa lebih hebat dari yang lainnya. pada hal blog seperti ini sangat berharga bagi banyak orang. walaupun hanya asumsi yang sekejab dan masuk kuburan menurutnya.
bagi saya memang tidak begitu.
pertanyaan saya kepada bloger ini:
kelengkungan Ruang-waktu yang disebabkan oleh massa. atas dasar apa dan sperti apa hal tersebut sehingga gravitasi tidak dianggap lagi sebagai gaya?
4 April 2009 pada 11:41
deceng
Mohon maaf kepada leluhur bila memang terkesan sombong, maksud saya mengajar untuk berpikir kritis lah draipada sekedar komentar sebenarnya.
Mohon maklum ini tulisan orang awam yang berusaha memahami apa yang terjadi dengan fisika teoritik, bisa jadi apa yang ditulis disini sudah out of date
.
waktu jaman Newton, dia bisa menjelaskan fenomena gravitasi namun tidak bisa menjelaskan mekanismenya; baru oleh Einstein dijelaskan bahwa gravitasi itu terjadi karena terjadinya kelengkungan ruang-waktu.
6 Juni 2009 pada 6:44
ibnusomowiyono
Jangan kita menganggap perbedaan sebagai kebodohan orang lain atau keunggulan seseorang, perbedaan justru dapat dijadikan bahan pembanding hingga orang tak merasa benar/ pintar sendiri.
Saya mantan guru ilmu pasti dan ilmu alam convensional. Saya merasa “terbelenggu” oleh kaidah-kaidah fisika lama, diantaranya Hk Newton hingga banyak yang menuduh saya sebagai Newtonian. Namun saya berusaha mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, diantaranya lewat internet, dan tv.
Saya tak menyangkal ilmu pengetahuan mutakhir, namun semakin lama semakin sulit untuk saya mengerti, sehingga saya menggagas TM dengan maksud “memanfaatkan” sesuatu yang telah terbuang dikeranjang sampah, siapa tahu masih ada yang bermanfaat.
7 Juni 2009 pada 2:45
ibnusomowiyono
TM lebih tepat disebut Teori Keranjang Sampah sebab TM adalah termasuk dalam bidang informatika. Informatika menyediakan sesuatu yang berguna untuk dimanfaatkan dan yang tak bermanfaat, bahkan merugikan bagi dirinya dan kemapanan.
Sebagai makluk cerdas, berbudi dan berbudaya tinggi manusia dibekali dengan pancaindra, perasaan/keyakinan dan fikiran sehingga dapat membedakan yang bermanfaat/dibutuhkan dan yang tak bermanfaat/merugikan.
Yang sering dilupakan, kemampuan manusia untuk mengungkap rahasia universe ini sangatlah terbatas. Manusia selalu berusaha meningkatkan kemampuan yang sangat terbatas ini untuk mendapatkan kenikmatan duniawi dan mencapai kehidupan dan kebahagiaan abadi.
27 Oktober 2009 pada 12:48
ibnusomowiyono
Saya sangat tertarik dengan “pernyataan” dalam teori Big bang, bahwa Alam semesta sejak terbentuknya jumlah energinya adalah nol, ini berarti ada energi negatip dan energi positip.
Saya “mendapatkan ” Formula yang saya namakan Formula Supernatural Modern (FSM) E = – x + y yang setelah saya kotak katik dengan menggati – x = n atau energi negatip dan y = p atau energi positip, maka saya dapatkan E = n + p.
Dalam TM saya nyatakan jika E = 0 maka terjadilah massa. Saya heran ternyta E bukanlah sekedar Equilibrium antara monopole selatan dan monopole utara, tetapi juga singkatan dari energy.
Jika demikian saya dapat mengkaitkan formula E = mc2 dengan E = -x + y = n + p. Karena kedua E menyatakan energy maka berarti mc2 = n + p.
Maaf saya semakin ngelantur hingga mengdapatkan persamaan c2 = (n + p)/m atau c = Akar dari (n + p)/m. Jika benar pernyataan alam semesta sejak terciptanya hingga saat ini n + p = 0, maka ada dua kemungkinan.
Untuk nilai m > 0 berarti c = 0 (ini tak sesuai dengan konstanta Einstein)
Untuk nilai m = 0 berarti nilai c sembarangan 0<c<tak berhingga atau nol.
Saya sangat yakin jika kecepatan cahaya adalah c bukan nol atau tak berhingga, sehingga saya berusaha mengotak atik (maaf fisika saya adalah fisika konvensional).
Sudah lama saya mempelajari photon dari Wikipedia dan menurut research terakir photon memiliki massa (Silakan cari Photon dan baca hingga tuntas), jadi cahaya yang "memuat" photon massanya buka lagi nol walau nilainya sangat kecil tetapi bukan nol.
n + p untuk cahaya bukanlah nol karena cahaya menurut TM merupakan symetrical transwave yang berosilasi disekitan E= 0.
Dari kotak katik itu saya semakin yakin bahwa c bukannya nol atau tak berhingga melainkan sebuat nilai diatas nol dan dibawah tak berhingga.
Saya berusaha mencari tahu bagaimana Einstein menemukan nilai c itu.
Kepada siapa saya harus bertanya atau dari sumbur mana saya dapat memperoleh penjelasannya.
Atas pertolongan anda saya sangat berterima kasih.
31 Oktober 2009 pada 10:50
Al-Khinziri
Menjelaskan partikel(bersifat paket/kuanta) adalah seperti memahami apakah yg menyusun paket-paket angka? seperti bidang kartesius dlm matematika dasar dimana suatu garis(1 dimensi) ternyata adalah kumpulan tak terhingga dari titik(0 dimensi/ketiadaan), tentunya amat menarik jika ternyata terdapat pola/hukum yg menunjukkan bahwa sesuatu itu disusun oleh 0 dimensi, walaupun kita tak tau dimana perbatasannya(antara paket angka 0 dan paket angka 1) yg penting sudah tahu apa diri kita itu menurut pola/hukum titik dan garis itu!
31 Oktober 2009 pada 11:22
Al-Khinziri
Jika mengambil sifat angka sebagai penjelas, dapat kita pahami bhw sebuah paket angka(misal: bnyk/kwantitas dari angka 0 ke angka 1) adlh 1 paket yg tersusun dari paket2 yg lebih kecil, misal: 0,1 paket, lalu 0,01 paket dst! Kalau dianalogikan ke penjelasan partikel dalam fisika maka 1 paket itu adalah sebuah atom konvensioal, 0,1 paket adalah sebuah partikel yg lebih elementer, hingga 0,01 paket adalah partikel string! Setiap paket tertentu adalah penyusun paket lebih besar, tp tentunya tiap2 ukuran paket punya sifat pembawaan(identitas) masing2, namun kesemuanya harus memenuhi pola bhw setiap paket selalu dpt dipecah menjadi lebih kecil sampai tak terbatas hingga ketemu bhw hakekatnya adalah suatu ketiadaan… Lalu mengapa gravitasi tak bisa digabungkan dgn gaya2 lain? Mungkin itu disebabkan oleh perbedaan dari besarnya nilai paketnya(tiap ukuran paket punya identitas sendiri) dgn gaya lain, dan gravitasi(misal diberi nilai paket: 0,39) mungkin lebih besar/kecil(yg penting beda) daripada gaya lain(diberi nilai 0,12), sehingga jika ingin menggabungkan gravitasi dgn gaya lain maka pecahlah(kalo dlm matematika dicari Faktor persekutuannya) gravitasi n gaya2 itu pd kedudukan paket yg setara(0,39 dan 0,12 sama tersusun dari 0,03 ==> anggap ini adlh suatu paket persekutuan yg dianalogikan milik partikel string)
8 November 2009 pada 7:02
ibnusomowiyono
Trimaksih atas uraian anda, walau saya belum mendapatkan penjelasan tentang bagaimana mendapatkan nilai c, saya “sedikit memahami” konsep string teori dengan “penjelasan particel dengan menyusun paket angka.”
Dalam TM saya bedakan antara partikel dan non partikel dengan memberikan nilai batas E, jika E#0 maka x # y atau harga mutlak n pasti # harga mutlakk p, yang artinyya menyalahi pernyataan bahwa jumlah energi haruslah nol.
Jika memang saint beranggapan sejak terciptanya universe jumlah energinya nol maka E haruslah selalu bernilai nol untuk suatu paket berapapun itu sangat besar maupun sangat kecil, agar universe atau partikel tetap nyata/berujud. Dapat saja kita beranggapan terdapat paket paket dari yang nilainya 0 sampai 1, maun yang lebih besar dari satu namun harus memenuhi persyaratan E=0. Setiap bagian dari paket haruslah jumlah energinya nol. Jika E#0 paket itu bukanlah materi melainlan non materi.
Menurut saya teori dawai hanya menjelaskan materi, bukan yang non materi.
8 November 2009 pada 11:15
ibnusomowiyono
Dalam fisika ruang yang tak terisi materi disebut ruang hampa (kosong melompong), sedangkan dalam TM dinyatakan setiap ruang dalam Universe terisi energi, body dan wave. Ruang yang telah terisi materi dinamakan ruang nyata sedang yang belum terisi materi dinamakan ruang semu.
Saya ingin bertanya: tabung vacum ( hampa udara) itu terisi oleh materi atau tidak?
Mengapa cahaya dapat menjalar diruangan “hampa”? Medium apa yang “menghantarkan cahaya?
Jika matter berinteraksi dengan antimatter maka akan menjadi nihil? Kemana perginya nihil itu? Jika nihil itu masih dalam Universe berarti dalam Universe terdapat ruang nyata dan ruang nihil (dalam TM dinamakan ruang semu). Atau…….yang nihil itu terlempar keluar dari Universe menuju Universe yang lain?
TM dengan tegas menyatakan: Jumlah energi dalam Universe ini tetap yang berubah hanyalah jenisnya, karena Universe merupakan “ruang/sistem tertutup” sehingga yang dapat meninggalkan atau memasuki universe adalah sesuatu yang invalid dan tak memenuhi FSM, sedangkan yang valid dan memenuhi FSM tak mungkin meninggalkan universe.
Baik ruang nyata maupun ruang semu berada dalam Universe, bukan diluar universe. Yang terdapat diluar universe adalah alam abadi yang tak mengenal dimensi.
Dimensi waktu membedakan antara yang abadi dan yang tak abadi. Dimensi massa membedakan antara yang nyata dan yang semu. Dimensi ruang merupakan satu kesatuan ruang yang terdiri dari ruang nyata dan ruang semu.