Kurikulum Sains dan OSN

Kegiatan Olimpiade Sains Nasional (OSN) V tahun 2006 Semarang sudah selesai dengan hasil propinsi penyelenggara yaitu Jawa Tengah menjadi juara umum diikuti dengan propinsi-propinsi yang ada di Pulau Jawa. Ada beberapa catatan yang muncul dari kegiatan kompetisi tingkat nasional ini, salah satu yang menarik adalah klaim bahwa OSN ini cerminan mutu pendidikan sains tingkat nasional. Walaupun sudah ada sedikit koreksi dari beberapa pihak akan klaim tersebut, namun bagaimana persisnya mutu pendidikan sains nasional termasuk dengan hasil pencapaian dari OSN ini terbuka untuk dibahas lebih lanjut. Tulisan ini akan mendiskusikan klaim prestasi pendidikan sains nasional, kurikulum sains dan kendala implementasinya, dan berusaha untuk membuka wacana tentang pendidikan sains di negara kita.

OSN cerminan mutu pendidikan sains?
Pernyataan optimistis para pejabat bahwa OSN merupakan patokan prestasi pendidikan sains nasional kurang tepat. Seperti halnya ajang olimpiade di tingkat internasional, pada OSN pun yang diuji adalah kemampuan individu peserta yang dalam hal ini mewakili masing-masing propinsi asalnya. Sehingga lebih cocok dikatakan bahwa prestasi yang diraih adalah memang mutu peserta yang terlibat, bukan pencapaian mutu pendidikan sains di daerahnya, apalagi di tingkat nasional. Peserta yang terlibat di dalam ajang ini pun, rata-rata sudah melalui proses seleksi dan pembinaan yang khusus serta intensif sebelum diadu di OSN. Malah kalau dilihat provinsi yang banyak mendapat mendali pada OSN, saat ini maupun sebelumnya, terlihat bahwa di provinsi-provinsi tersebut memang telah terjadi program pembinaan peserta yang baik. Dengan model persiapan dan sistem pengujian seperti itu maka lebih tepat bahwa OSN memang cerminan prestasi individual peserta. Tidak jauh beda dengan partisipasi negara kita dalam ajang berbagai olimpiade sains internasional, dimana untuk bidang fisika di tahun ini memang mencapai satu prestasi puncaknya: juara dunia.
Kalau memang OSN tidak dapat dijadikan alat ukur mutu pendidikan nasional maka kita tentunya harus melihat model penilaian lain yang lebih respresentatif. Secara rutin di tingkat SMP dan SMA kita selalu melakukan ujian nasional (UN), yang sejak tiga tahun terakhir ini hanya mencakup tiga mata pelajaran saja dan hanya satu yang ikut dilombakan dalam ajang OSN yaitu matematika. Artinya mutu pendidikan sains secara nasional pun tidak dapat diukur melalui UN ini, karena memang tidak diujikan. Walaupun kualitas hasil UN pun selama tiga tahun ini banyak dipertanyakan, mulai kecurigaan adanya konversi sampai kepada yang terakhir adanya berbagai isu upaya “membantu” siswa supaya lulus. Mata pelajaran sains (biologi fisika di tingkat SMP dan ditambah kimia di SMA) sebenarnya diujikan namun dalam bentuk ujian akhir sekolah (UAS) oleh masing-masing sekolah dimana kualitas soal dan penyelenggarannya pun sangat beragam, ditambah hasilnya cenderung tidak bisa diakses publik baik di tingkat kabupaten/kota dan propinsi apalagi nasional. Sehingga kalau memang mau mengklaim perstasi pendidikan sains secara nasional lebih tepat acuannya adalah pada hasil test pra-UN, yaitu sebelum tahun 2003 melalui sistem ujian yang namanya EBTANAS. Sayangnya, secara nasional rata-rata prestasi siswa kita yang ikut EBTANAS dalam berbagai mata pelajaran sains selalu berada di bawah hasil pelajaran lainnya, dan tidak pernah mencapai angka standar kelulusan.
Indikator lain yang bisa dipakai sebagai cerminan mutu pendidikan sains lainnya adalah partisipasi Negara kita dalam survai internasional semacam TIMSS dan PISA. Hasil kemampuan siswa kita dalam TIMSS (1997) maupun TIMSS-Repeat (2001) tidaklah menunjukkan hasil yang bisa dibanggakan dalam penguasaan pelajaran sains dan matematika. Demikian juga hasil tes PISA tahun 2003 yang lebih khusus dalam literasi matematika dan sains, yaitu bukan dalam isi pelajaran sainsnya sendiri tapi menunjukkan pemahaman siswa tentang prinsip dan konsep sains dan matematika melalui bacaan, prestasi belajar siswa kita dibanding negara lain tidaklah cukup bagus.
Jadinya kita patut bertanya, pada titik mana perbaikan harus dilakukan supaya klaim pejabat tentang mutu pendidikan sains memang bukan sekedar retorika lagi? Untuk hal itu kita bisa membahasnya mulai dari sumber pengajaran sains yaitu kurikulum sains yang berlaku secara nasional; serta aktor yang mengajarkan sains yaitu guru serta faktor lainnya yang bisa mendukung kesuksesan pengajaran sains di sekolah-sekolah kita.

Kurikulum Sains

Kurikulum sains yang berlaku untuk sekolah kita sejak jaman Orba bisa dikategorikan sebagai kurikulum yang condong pada pengajaran sains sebagai produk, yaitu berisi transfer pengetahuan berupa fakta-fakta, prinsip-prinsip, teori-teori dan hukum-hukum sains kepada siswa oleh guru. Model pengajaran sains berbasis buku teks ini sesuatu yang tidak dihindari karena kita memang melakukan adopsi isi kurikulum dari negara maju dengan usaha yang minim untuk menjadikannya lebih kontekstual dengan kondisi dan situasi belajar dimana siswa berada. Sains pada kurikulum baru yang sekarang sudah disahkan pun yang dinamakan KTSP (kurikulum tingkat satuan pelajaran) pada tingkat SMA misalnya, apa yang disebut Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, isinya kalau diamati tidak lebih dari perubahan urutan materi pelajaran saja yang harus diajarkan pada siswa dibanding dari kurikulum sebelumnya (kurikulum 1994 atau 1984 sekalipun).
Hal ini salah satunya tidak terlepas dari proses perancangan dan penyusunan kurikulum sains, seperti halnya pada mata pelajaran lainnya, yang serba terpusat dan eksklusif, termasuk juga terjadi pada kurikulum terakhir yang biasa disebut KTSP itu. Proses desain kurikulum tidak pernah terbuka pada publik, yang selalu ada adalah pengesahannya oleh menteri terkait, yaitu mendiknas seperti yang terdapat pada Permen 22, 23 dan 24 tahun 2006 tentang berlakunya kurikulum 2006 ini. Pada dokumen kurikulum misalnya, tidak pernah menampilkan data-data siapa yang mendisain dan apa sumbangannya; kapan dan dimana penyusunan dilakukan; serta pernah dicoba dimana serta uji public-nya kalau ada dilakukan dll. Kurikulum 2004 (KBK) yang tidak jadi disahkan sebetulnya sudah sedikit baik dari segi proses penyusunan, dimana ada uji publik dan percobaan penerapannya; sayangnya KTSP malah kembali ke pola sebelumnya. Hal berikutnya adalah, berbagai kelompok kepentingan tidak direpresentasikan dalam desain dan proses pembuatan kurikulum, sehingga kalau pun produk kurikulum selesai dan siap disosialisasikan yang biasa terjadi adalah upaya memenuhi standar minimal birokrasi bahwa ini sudah disebarluaskan. Tidak aneh stakeholder pengajaran sains (guru sains, dosen sains LPTK, orang tua dll) merasa heran dengan kemunculan dokumen kurikulum yang alternatifnya bagi mereka hanya harus diterima apa adanya.
Dengan mengajak publik secara luas dan berbagai kelompok kepentingan terlibat sejak perencanaan dan penyusunan akan lebih bermanfaat bagi perbaikan kualitas kurikulum. Berbagai masukan akan mempunyai salurannya dan bisa mengakomodasikan perubahan cara pandang kurikulum tidak hanya sains sebagai produk saja; bisa juga mengeksplorasi alternatif seleksi pengetahuan, urutan serta metoda dan pendekatan mengajarnya yang lebih bisa disesuaikan dengan kondisi daerah dimana kurikulum memberikan fleksibilitasnya. Berbagai riset pengajaran sains pun telah berkembang luas dan menyoroti perlunya mengakomodasi kepentingan kelompok tertentu seperti murid perempuan dan kelompok masyarakat yang mempunyai pengetahuan sains tradisional yang berbeda.

Guru Sains
Tantangan berikutnya adalah implementasi kurikulum di kelas oleh guru sains. Survey prestasi guru sains yang diterbitkan oleh Pusat Data dan Informasi Pendidikan Depdiknas menampilkan rata-rata prestasi guru yang masih dibawah angka yang dianggap layak. Ini tentu kondisi yang cukup memprihatinkan, karena kurikulum sebagus apapun akan menjadi tumpul kalau kemampuan gurunya tidak unggul dalam hal yang mendasar yaitu penguasaan materi pelajaran sains. Kecenderungan dari model pengajaran yang akan terjadi di tengah kondisi pengajar seperti itu adalah mengajar sains dengan fokus lagi-lagi pada sains sebagai produk. Maka siswa pun akan cenderung dijejali dengan berbagai fakta-fakta ilmiah yang harus diingat ataupun sains dipresentasikan dengan berbagai rumus serta proseur perhitungan matematis (khususnya pada pelajaran fisika dan kimia) yang kesannya memang sains itu susah dan rumit.
Dokumen kurikulum kita, walaupun sudah secara eksplisit, khususnya di bagian pendahuluan dokumen kurikulum, bahwa sains tidak hanya produk saja namun juga sains sebagai proses dan implikasi sains pada masyarakat (dalam istilah depdiknas disebut salingtemas, yaitu sains lingkunga teknologi dan masyarakat), hanya pada guru lah ini bisa diwujudkan dalam pengajaran di kelas. Kegiatan yang disebut sains sebagai proses yang biasa dilakukan oleh guru adalah eksperimen laboratorium. Namun sayangnya konteks pengajaran melalui percobaan ini pun tidak lebih dari kegiatan eksperimen layaknya mengikuti prosedur seperti resep masakan saja, dimana siswa diarahkan untuk konfirmasi teori atau prinsip tertentu dengan prosedur baku, bukannya melakukan eksplorasi dan merancang sendiri percobaannya yang boleh jadi hasilnya pun tidak akan menemukan jawaban yang pas. Dengan kata lain kegiatan pengajaran sains sebagai proses pun masih dalam berada dalam konteks sains sebagai produk.
Ilustrasi diatas menunjukkan perlunya guru-guru sains melakukan penyegaran pengetahuan untuk hal-hal yang mungkin dianggap remeh temeh, misalnya seperti menjawab pertanyaan “apakah sains itu?” Jawaban pada pertanyaan ini oleh guru akan mempunyai pengaruh yang luar biasa, akan menunjukkan apa yang diajarkan, bagaimana mengajarkannya dan apa yang dia harapkan dari siswa. Mengenalkan perspektif pengajaran sains sebagai proses, yaitu aplikasi metoda ilmiah, maupun konteks lain yang lebih luas akan membuat guru lebih mafhum dibanding hanya berfokus pada kurikulum yang ada. Dari pehamaman yang komprehensif begini guru akan lebih tahu bahwa model pengajaran buku teks tidaklah cukup memberikan bekal pengetahuan sains bagi siswa.
Tidak adanya mata pelajaran sains di UN serta munculnya KTSP, pada satu sisi sebetulnya membuat guru sains mempunyai fleksibilitas tentang sains seperti apa yang akan diajarkan dan metodanya. Namun untuk bisa seperti itu peningkatan kompetensi guru sains adalah suatu hal yang tidak dapat dielakkan. Bisa jadi perbaikan kualitas pengajaran sains salah satunya dimulai dengan program sertifikasi guru. Sehingga kalaupun nantinya ada satu siswanya menjadi juara olimpiade sains, kita berharap bahwa itu adalah cerminan dari pengajaran sains di sekolah kita yang memang sudah berubah[].

———–

Keterangan: tadinya ini tulisan buat di koran; berhubung akhirnya ditolak yah dipaksakan ditampilkan disini saja walupun rada-rada basi; juga sudah pernah muncul di milis sains: http://groups.yahoo.com/group/sains/message/2252

About these ads