Membaca
Kegiatan belajar dengan membaca adalah hal yang utama dalam pendidikan. Tanpa kemampuan membaca maka pembelajaran apapun tidak akan dapat efektif dilaksanakan, apalagi untuk pelajaran sains. Membaca dalam pelajaran sains digunakan dalam berbagai media seperti buku teks, lembar kerja siswa (LKS), papan tulis, petunjuk praktikum, artikel surat kabar ataupun bacaan umum dengan tema tentang sains.
Buku teks yang biasanya merupakan bahan belajar siswa yang utama di sekolah, untuk membantu interpretasi materi pelajaran yang bersifat tekstual ini siswa perlu dibantu untuk menangkap informasi yang dibacanya. Artinya mereka harus mengidentifikasi dan memahami komponen penting, serta menghubungkannya ke dalam struktur aslinya. Beberapa strategi yang bisa dilakukan dengan membaca buku teks diantaranya adalah: a) menemukan informasi utama, dimana siswa akan mencari konsep yang dicari serta mendiskusikannya serta menghasilkan kesepakatan dari diskusi tersebut khususnya dengan sejawatnya; b) meringkas informasi, siswa mencari informasi yang diperlukan dan menggunakannya kemudian menuliskannya dengan bahasanya sendiri; c) menyajikan informasi dalam bentuk diagram alur, dimana siswa membahas bacaan tertentu kemudian membuat diagram berdasar informasi dari buku teks; d) pengurutan informasi, siswa dibagi dalam kelompok kecil yang dibagi bahan bacaan berbeda, kemudian mendiskusikan kemungkinan urutan bahan bacaan tadi.
Sedangkan untuk membaca dan menyelesaikan lembar kerja siswa (LKS), paling tidak terdapat dua fungsi utama, yaitu: pertama, LKS memberikan informasi yang terarah kepada siswa untuk dipahami dan diselesaikan tugasnya (transfer pengetahuan dan konstruksi pemahaman); dan kedua, LKS membuat siswa berpikir tentang apa yang mereka lakukan dan mengapa melaksanakan hal itu (metakognitif). Kebanyakan LKS yang ada di sekolah kita sudah dibuat oleh pihak di luar guru dan menjadi bahan belajar “mandiri” bagi siswa. Akan lebih baik bila guru memang menyediakan waktu untuk menyusun LKS yang akan secara langsung banyak membekali mereka dengan berbagai keahlian secara bersamaan (pencarian info, perluasan wawasan, komposisi teks, identifikasi kebutuhan belajar siswa dll). Beberapa petunjuk yang bisa digunakan dalam menyusun LKS diantaranya adalah: disusun secara menarik mungkin; gunakan judul dan sub-judul dalam menyusun tugasnya; gunakan bahasa yang mudah dipahami (hindari istilah teknis dan susun kalimat yang singkat); gunakan jenis-jenis pertanyaan bagaimana, mengapa, apa dan kenapa untuk membantu siswa menginterpretasi dan memahami tugas yang diberikan.
Untuk tulisan di surat kabar sebenarnya mempunyai banyak kegunaan sebagai bahan belajar yang bermanfaat bagi siswa. Artikel surat kabar memberikan ilustrasi mengenai konsep penting pada berbagai mata pelajaran dan persentasinya yang muncul di media; disamping itu tulisan surat kabar juga menyumbangkan konteks yang berharga dalam berbagai keterampilan kunci seperti akses pada informasi aktual, membaca secara reflektif, berpikir kritis, hasil dari suatu pembuatan keputusan dan lainnya. Berbagai kegunaan tadi tentunya tidak bersifat independent namun inter-relasi secara bersamaan saat siswa membaca dan berusaha memahami tulisan surat kabar. Malah sering dikatakan bahwa surat kabar adalah ‘buku teks yang hidup’ (living textbooks) yang membantu menjembatani jurang perbedaan antara kurikulum sekolah dan dunia nyata. Karena sifat artikel yang aktual dan sekilas (transient) tentu saja artikel surat kabar tidak bisa menggantikan buku teks atau LKS, namun bisa memperkaya pengetahuan siswa tentang berbagai isu yang popular di masyarakat. Misalnya artikel mengenai bencana Lumpur Lapindo bisa dimanfaatkan untuk mata pelajaran lingkungan, geografi, ilmu bumi, kimia, ekonomi, IPS dll. Masing-masing mata pelajaran bisa memakai artikel yang sama namun dengan pendekatan pada isu mata pelajarannya. Secara teknis, guru bisa memberikan artikel atau juga siswa mengajukannya, kemudian guru merancang kegiatan belajar berdasar tulisan surat kabar tersebut. Kegiatan belajar yang dimaksud bisa berupa diskusi, menyelesaikan LKS, debat dll. Deskripsi mengenai penggunaan artikel surat kabar terdapat pada blog ini juga.

3 comments
Comments feed for this article
7 November 2008 pada 4:46
Indra
Sebaiknya kita perlu mengkaji ulang dan menerapkan konsep pembelajaran sains dari SEQIP (SCIENCE QUALITY IMPROVEMENT PROJECT) dan kerja sama dengan lembaga Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan Indonesia seperti UPTD Graha Teknologi Sriwijaya Sumatera Selatan, PPIPTEK TMII Jakarta, Sun Dial di Bandung, Taman Pintar di Yogya.
Lembaga tersebut banyak sekali wahana – wahana dasar sains seperti wahana fisika, wahana matematika, wahana biologi dan sebagainya. Para pelajar dapat mempelajari dengan santai, bermain dan mendidik tentang sains. Namun sebelum mengunjungi lembaga tersebut, para guru memiliki konsep: 1. Materi apa yang akan dicari, 2. Apa yang akan dilakukan disana, dan 3. Aapa yang akan didiskusikan setelah kembali.
Lembaga tersebut mendekatkan pembelajaran sains sambil bermain, sains itu mudah, sains itu berada dimanapun. Umumnya dengan moto “BERMAIN SAMBIL BELAJAR dan BELAJAR SAMBIL BERMAIN”. Semoga dapat memenfaatkan lembaga tersebut.
Dan bagi propinsi yang belum memiliki mari kita bangun “pusatperaga ilmu pengetahuan atau science center”.
7 November 2008 pada 4:58
deceng
Sebenarnya tidak ada yang baru dalam hal “permainan sains”, yang dibutuhkan sepertinya cara pandang yang berbeda. Menyeimbangkan antara ‘bermain’ dan ‘belajar’ pada saat pemberian materi pelajaran sains bukan hal yang enteng, terlebih guru kita tidak dipersiapkan untuk itu. Lebih strategis menemani guru dan mengenalkan hal yang memang mereka perlukan, dibandingkan misalnya membangun institusi baru atau membuat proyek baru
.
5 Januari 2009 pada 7:24
Andy Rudhito
Salam kenal. Kami sediakan animasi-animasi untuk pembelajaran SAIN. GRATIS.