Menulis


Kegiatan menulis adalah hal yang tidak terpisahkan dalam kegiatan pembelajaran. Paling tidak terdapat dua kegunaan menulis yang bisa diidentifikasi secara langsung. Pertama, kegiatan ini dapat dilihat sebagai cara transmisi/pemindahan ide dari penulis kepada pembacanya, misal dari guru ke siswa ataupun sebaliknya; kedua, menulis merupakan sarana dimana pengarangnya, misalnya siswa, dapat menginterpretasi ide yang ada dan menyusunnya kembali sesuai gaya dan bahasanya sendiri. Dengan menulis, siswa sebenarnya tidak harus dituntut untuk mereproduksi fakta/definisi/ide sesuai dengan yang telah dijelaskan oleh guru/buku teks, namun yang lebih utama adalah proses mengumpulkan berbagai ide tersebut dan men-sintesis-kannya menjadi tulisan yang memang dipahami olehnya. Sehingga menulis tidak harus selalu dilihat sebagai hasil belajar siswa (misal ringkasan isi mata pelajaran), namun juga harus dilihat sebagai cara belajar siswa yang menunjukkan bagaimana dia mengorganisasi pengetahuan dan pemahamannya.

Apa yang ditulis oleh siswa sebagai cara dia belajar juga tergantung kepada siapa tulisan tersebut ditujukan/audiensnya. Ketika siswa menulis audiensnya bisa kepada: mereka sendiri, guru (sebagai seorang guru, sebagai penilai/penguji pemahamannya, ataupun orang dewasa yang responsif dan dipercaya), untuk siswa lainnya ataupun untuk orang lain. Sebagian kegiatan menulis dalam hal pembelajaran di kelas, khususnya ditujukan untuk guru (sebagai penilai hasil belajar) dan biasanya dilakukan dalam pola transaksional. Yaitu, tulisan yang dibuat siswa untuk menyampaikan pengetahuan dan pemahamannya tentang fakta, teori, aturan, aplikasinya, penyelesaian soal ataupun definisi serta berbagai contohnya kepada guru. Terkadang apa yang ditulis oleh siswa pun biasanya sangat mirip dengan apa yang telah diberikan oleh guru, yang juga sebenarnya menunjukkan sedikitnya pemahaman yang mereka usahakan dalam hal konsep dan berbagai hubungannya, selain usaha mengingat. Tulisan yang dibuat oleh siswa biasanya diperiksa keakuratan dan cara pengerjaannya untuk kemudian diberikan nilai.

Salah satu cara alternatif yang bisa dilakukan oleh guru adalah mendorong siswa untuk menulis secara interpretif (konstruktif), dimana seorang guru sains seharusnya menilai tulisan tersebut bukan sebagai penguji untuk menilai keakuratan isi tulisan, namun sebagai orang dewasa yang mendorong siswa dengan upaya belajarnya melalui menulis. Mendorong siswa menulis dengan gaya interpretif dengan pilihan kata-katanya sendiri juga akan membantu guru untuk mengidentifikasi kesulitan belajar siswa yang muncul dari interpretasi mereka terhadap apa yang telah dibaca atau dipahami.

Perhatikanlah dua gaya penulisan di bawah ini yang menunjukkan gaya transaksional dan ekspresif tentang ikatan kima jenis ikatan ion, apakah kekuatan dan kelamahan keduanya menurut anda?
Transaksional
Ikatan ion terjadi antara unsur logam dengan non-logam. Contohnya pada unsur golongan alkali (natrium) dengan golongan halogen (klor). Ikatan ion terjadi pada saat atom natrium (Na) melepaskan satu elektron sehingga bermuatan +1 (Na+1) dan electron yang dilepaskan diterima oleh atom klor sehingga bermuatan negatif (Cl-1). Persamaan rekasinya secara lengkap adalah: 2 Na + Cl2  2 NaCl
Ekspresif
Garam dapur atau bernama ilmiah natrium klorida (NaCl) yang berasa asin dan merupakan komponen utama air laut merupakan contoh senyawa yang berikatan karena serah terima elektron. Salah satu unsur pembentuk garam dapur tersebut kelebihan elektron dan menyerahkannya ke yang lain supaya keduanya bisa stabil.

Kegiatan belajar siswa melalui tulisan juga bisa berbentuk penugasan tertulis dimana sumber bacaan, struktur tulisan dan kriteria penilaian disebutkan secara detail; sedangkan saat lingkup tugas disebutkan namun siswa harus menemukan sumber bacaan dan menentukan format presentasinya maka siswa dituntut mengerjakan proyek penulisan. Untuk yang pertama biasa disebut tugas tertulis sedangkan yang kedua disebut sebagai karya tulis/paper. Penulisan paper umumnya siswa diberikan kebebasan lebih untuk tiap bagiannya, bahkan bentuk akhir presentasinya tidak harus dalam bentuk tulisan saja namun dalam bentuk media cetak visual (poster, pamphlet, diagram) ataupun elektronik (presentasi power point, video klip, film pendek).

Yang perlu diingat bagi guru, pola penulisan yang berbeda dan kreatif mengenai satu topik tertentu, menulis untuk audien yang lain (misal siswa SMA menulis untuk dibaca anak SD) dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa secara signifikan. Tugas penulisan kelompok kecil pun akan lebih bernilai bila dibandingkan dengan tugas individu.

Satu aspek yang jarang dikembangkan dalam pengajaran sains di sekolah-sekolah di Indonesia adalah menulis tentang topik-topik hangat dan kontroversial dalam hal sains yang berhubungan dengan kehidupan social (seperti isu energi, pemanasan global, banecana alam, pembalakan hutan dll). Disini secara bersamaan siswa dilatih untuk menemukan bahan-bahan yang berhubungan dengan topik yang ditentukan, baik cetak (buku, majalah, Koran) ataupun secara elektronik (internet). Dari bahan-bahan yang berhasil didapatkan siswa diminta untuk mengkoleksi sumber dan identitasnya, menuliskan ringkasan hal-hal yang penting yang ada di dalamnya, fokuskan ringkasan dalam hal kajian ilmiah dan dampak social dan lingkungannya, catat jika memang terdapat perspektif yang berbeda, nilailah apakah artikel yang didapat telah menampilkan secara lengkap dan putuskanlah apa yang masih perlu dibutuhkan. Hal ini pun lebih baik dilakukan dalam kelompok kecil siswa, dimana mereka berdiskusi, merancang tulisan dan menampilkannya. Penugasan seperti ini secara langsung akan melatih berbagai keterampilan hidup yang diinginkan dimiliki oleh siswa seperti pengumpulan informasi, analisis bahan yang didapat, tugas kelompok, dan mensintesis hal baru dalam bentuk karya tulis dan presentasinya.