Teori Belajar dari Perspektif Konstruktivis

Secara umum yang disebut konstruktivisme menekankan kontribusi seseorang pembelajar dalam memberikan arti, serta belajar sesuatu melalui aktivitas individu dan sosial. Tidak ada satupun teori belajar tentang konstruktivisme, namun terdapat beberapa pendekatan konstruktivis, misalnya pendekatan yang khusus dalam pendidikan matematik dan sains. Beberapa pemikir konstruktivis seperti Vigotsky menekankan berbagi dan konstruksi sosial dalam pembentukan pengetahuan (konstruktivisme sosial); sedangkan yang lain seperti Piaget melihat konstruksi individu lah yang utama (konstruktivisme individu).

Baca entri selengkapnya »

Teori Belajar dari Perspektif Kognitif

Tidak seperti halnya belajar menurut perspektif behavioris dimana perilaku manusia tunduk pada peneguhan dan hukuman, pada perspektif kognitif ternyata ditemui tiap individu justru merencakan respons perilakunya, menggunakan berbagai cara yang bisa membantu dia mengingat serta mengelola pengetahuan secara unik dan lebih berarti. Teori belajar yang berasal dari aliran psikologi kognitif ini menelaah bagaimana orang berpikir, mempelajari konsep dan menyelesaikan masalah. Hal yang menjadi pembahasan sehubungan dengan teori belajar ini adalah tentang jenis pengetahuan dan memori.

Baca entri selengkapnya »

Teori Belajar dari Perspektif Behavioris

Tidak dapat disangkal lagi bahwa teori belajar dari perspektif behavioris pertama kali dari percobaan pengkondisian hewan percobaan oleh Pavlov yang kemudian dikembangkan oleh B.F. Skinner, salah seorang pelopor psikologi behavioris, dan juga para pengikutnya yang sukses dalam hal memodifikasi berbagai perilaku antisosial dan tidak diinginkan lainnya. Teori ini menekankan pada pentingnya memahami keadaan awal dan konsekwensinya dalam bentuk perubahan perilaku. Belajar pun dilihat dari adanya perubahan perilaku yang terukur, terlihat serta teramati dan sedikit sekali menyinggung tentang proses mental atau internal berpikir. Singkatnya menurut perspektif ini belajar adalah perubahan perilaku atau apa yang dilakukan seseorang dalam keadaan tertentu. Secara sederhana teori ini mengajukan hubungan sederhana A-B-C yaitu antecedents-behaviour-consequence atau keadaan awal-perilaku-konsekwensi, pada saat perilaku dilakukan maka konsekwensi bertransformasi menjadi keadaan awal untuk tahapan ABC selanjutnya. Sehingga perilaku dipengaruhi oleh perubahan yang dilakukan dalam latar belakang, konsekwensi ataupun keduanya.

Baca entri selengkapnya »

2. Pengalaman

Yang dimaksud dengan pengalaman adalah kegiatan laboratorium yang sifatnya memberikan interaksi langsung yang nyata pada siswa melalui panca inderanya. Karena pelajaran sains salah satunya bertujuan untuk memberi arti tentang dunia fisik dimana kita hidup, maka sudah sewajarnya siswa dapat merasakan dan mengalami petualangan belajar sains melalui kegiatan eksperimentasi. Kegiatan eksperimentasi pengalaman bermaksud mengajarkan konsep sains dengan kegiatan praktek/percobaan secara terintegrasi dan juga bisa mengarah pada ilustrasi dimana guru dan siswa sudah sedikit tahu tentang konsep sains dan kesimpulan yang kemungkinan ditujunya. Tabel berikut memberikan beberapa contoh kegiatan laboratorium yang masuk dalam kelompok pengalaman ini.

Baca entri selengkapnya »

Keterbatasan Pengajaran Sains di Laboratorium

Disamping berbagai potensi yang bisa digunakan, berbagai hasil riset juga mencatat keterbatasan dari praktek laboratorium yang selama ini dilakukan di sekolah. Sebagai contoh, ketika pengajaran sains yang dilakukan dengan metoda praktek laboratorium dibandingkan dengan metoda lainnya seperti sistem klasikal (ceramah) atau demonstrasi (oleh guru ataupun siswa) ternyata tidak menunjukkan peningkatan prestasi siswa kecuali dalam hal keterampilan siswa dalam penggunaan alat-alat laboratorium. Guru yang pernah melakukan praktek laboratorium juga mengalami, bahwa praktek laboratorium membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk persiapan alat dan bahan, kesulitan dalam mengatur dan mengawasi siswa dalam berpraktek, prosedur percobaan yang sulit dipahami siswa dan kemungkinan siswa membuat kesalahan di setiap saat, dan hasil yang diinginkan dan pemahaman yang diharapkan dari siswa pun biasanya jauh dari yang direncanakan dari kegiatan praktek ini.

Baca entri selengkapnya »